Kehamilan dan Virus A H1N1

PENGERTIAN 

Virus Influenza A (H1N1) ini awalnya diberi nama flu babi (swine flu) merupakan virus influenza terbaru yang menyebabkan penyakit pada manusia. Virus Influenza A-H1N1 adalah jenis penyakit pernafasan yang berbeda dengan virus yang menyerang sekelompok babi di Amerika Utara. Virus ini memiliki dua gen dari virus flu yang normalnya menyerang babi di Eropa dan Asia, burung (avian) dan manusia. Para peneliti menyebutnya sebagai quadruple reassortant virus. (Centers for Disease Control and Prevention, 2009)

Menurut beberapa sumber, virus ini disebut sebagai virus jenis baru yang disebabkan oleh influenza tipe A subtipe A-H1N1 yang merupakan kombinasi antara influenza A, flu burung, dan flu manusia. Oleh karena itu, WHO dan badan pangan dunia (FAO) melakukan penggantian nama dari flu babi menjadi influenza A karena virus ini tidak lagi ditularkan dari babi ke manusia namun lebih kepada manusia ke manusia dengan penyebaran yang cukup pesat seperti pada influenza biasa. Perubahan nama ini sekaligus meluruskan opini publik bahwa penyakit ini tidak ada kaitannya dengan babi, terutama dalam penularannya. Dengan kata lain, babi bukan merupakan sumber penularan penyakit yang saat ini mewabah diberbagai negara.

TANDA DAN GEJALA

Wanita hamil yang terinfeksi virus influenza A (H1N1) memiliki gejala khas pernapasan akut seperti penyakit influenza biasa (misalnya, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair) dan demam. Gejala lain dapat termasuk sakit badan, sakit kepala, kelelahan, muntah dan diare. (Center for Disease Control and Prevention, 2009)

Gejala influenza A ini memang sama dengan influenza pada umumnya. Gejala meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, body aches, sakit kepala, menggigil dan lemas atau letih. Beberapa orang yang terserang flu babi juga dilaporkan mengalami pilek, sakit kepala, mual muntah, dan diare. Oleh karena gejala-gejala ini tidak spesifik untuk virus influenza A, diagnosis banding dari kemungkinan influenza A tidak hanya dari gejala namun juga kecenderungan tinggi influenza A tersebut berdasarkan riwayat pasien saat ini. Diagnosis pasti influenza A memerlukan uji laboratorium melalui sampel dari respirasi (usap hidung dan tenggorokan sederhana).

PENULARAN

Untuk virus influenza A (H1N1) yang tergolong virus baru ini penularan lebih sering terjadi dari manusia ke manusia yang cara penularannya hampir sama dengan cara penularan flu biasa, yaitu melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Penularan melalui udara dari sekresi (cairan atau lendir) mulut dan hidung seperti batuk, bersin, berbicara, dan bernyanyi. Penularan virus A (H1N1) serupa dengan virus tipe A subtipe H dan N yang bersifat zoonosis, yakni bersifat airbone lewat droplet atau cairan dari alat pernafasan seperti hidung dan mulut. Penularan khusus dapat berlangsung lewat kontak langsung, melalui batuk atau bersin berjarak 1,5 meter. Manusia juga dapat terinfeksi karena menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus flu babi dari orang lain, kemudian memegang mulut, hidung, atau mata.

Menurut Rahmansyah (2009), penularan virus ini terjadi sangat cepat (3-7 hari setelah gejala awal) dan resiko lebih tinggi jika terjadi di ruang tertutup (seperti kamar, ruang perawatan, sekolah, perawatan di rumah, dan ruang darurat). Namun, penularan flu babi varian baru ini juga bergantung pada daya tahan tubuh seseorang. Orang yang daya tahan tubuhnya kuat maka tidak akan mudah terjangkiti virus influenza A ini. Selain itu, perlu diketahui bahwa konsumsi daging babi bukan jalan penularan penyakit ini. Virus influenza A (H1N1) yang ada pada babi dapat mati setelah daging diolah dengan matang atau dimasak pada suhu minimal 70o C dan sesuai dengan panduan umum mengolah daging. (Rahmansyah, 2009).

PENGARUH INFLUENZA A TERHADAP KEHAMILAN

Karena respon imun ibu tertekan selama kehamilan, untuk meningkatkan penerimaan janin, maka wanita hamil menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, pada kasus penyebaran influenza A wanita hamil menjadi perhatian khusus karena termasuk ke dalam kelompok yang rentan terkena infeksi virus influenza A ini. Pada kehamilan, terjadi perubahan pada respon imun ibu. Sistem imun  adalah suatu jaringan rumit sel khusus dan sinyal kimiawi, yang berinteraksi untuk membentuk pertahanan terhadap organisme infeksiosa. Sejumlah mikroorganisme berada di dalam tubuh. Sebagian, yang disebut komensal, terdapat di dalam atau pada tubuh pejamu tanpa menimbulkan gangguan sama sekali. (Coad & Dunstall, 2007).

Sedangkan pada kehamilan jumlah sel darah putih, terutama neutrofil, meningkat dan sel lebih cepat berespon terhadap tantangan. hCG merangsang produksi dan respons neutrofil (Barriga, Rodriguez, & Ortega, 1994). Kadar progesteron dan estrogen yang tinggi menurunkan jumlah sel T helper dan meningkatkan jumlah sel penekan Selama kehamilan, serum darah wanita mengandung anti-HLA antibody yang dipakai untuk melawan sel limfosit dari ayah (paternal lymphocyte). Sayangnya maternal HLA antibody ini tidak dapat membuat anti-HLA antibody terhadap sel tropoblast karena sel-sel tropoblast tidak mengeluarkan HLA kelas 1 atau kelas 2 dan sering sekali maternal HLA antibody munculnya terlambat pada kehamilan pertama dibandingkan pada kehamilan kedua atau ketiga. Keadaan ini menimbulkan akibat di dalam klinik dengan seringnya terjadi gangguan kehamilan seperti keguguran pada primi para. (Adiyono, 2004)

Dalam mengantisipasi keadaan tersebut maka sistem kekebalan tubuh akan menurunkan mekanisme pertahanannya melalui sistem yang disebut down regulation T-cell. Sistem ini disebut juga sebagai mekanisme imun depresion yang merupakan suatu mekanisme tubuh yang menekan sistem imun atau menahan respon yang telah bangkit seperti pada HCG yang dapat menekan proses transformasi sel limfosit T. Walaupun data tidak cukup untuk menentukan siapa yang berada pada resiko tinggi terhadap komplikasi penyebaran virus influenza A (H1N1), wabah flu musiman dan pandemi virus influenza yang dahulu menunjukkan bahwa wanita hamil biasanya berada pada resiko tinggi terhadap virus influenza-berhubungan dengan angka kematian dan kesakitan dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. (Dodds, 2007)

Peningkatan resiko terhadap komplikasi pada wanita hamil didasarkan pada pemikiran yang berhubungan dengan perubahan secara fisiologis selama kehamilan, mencakup perubahan pada kardiovaskular, respirasi, dan sistem imun. (Jamieson, 2006). Dari beberapa kasus influenza A pada wanita hamil yang dilaporkan oleh Center for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa, sebagian besar wanita hamil memiliki gejala yang pada umumnya sama yaitu demam akut dan gejala penyakit respirasi.  Penelitian menunjukkan bahwa hipertermia ibu selama trimester pertama beresiko membuat cacat tabung saraf dan dapat dihubungkan dengan cacat lahir lainnya dan hasil yang merugikan. Komplikasi serius akibat infeksi influenza A yang paling sering terjadi adalah penyakit yang berkenaan dengan paru-paru. Banyak ibu hamil yang terus memiliki gejala khas influenza tetapi tidak membuat komplikasi. Namun, bagi beberapa ibu hamil, penyakit ini mungkin berkembang secara pesat, dan mungkin terjadi komplikasi oleh infeksi bakteri sekunder termasuk pneumonia. Kapasitas paru menurun karena saat rahim mengembang hal itu memindahkan diafragma (sekat rongga) ke atas dan pada dasarnya mempersempit ruang bagi paru-paru.

Semua perubahan ini membuat wanita hamil jadi lebih rentan dan terpengaruh lebih parah oleh virus-virus tertentu, termasuk flu. (Center for Disease Control and Prevention, 2009). Sehingga wanita hamil dengan didasari kondisi kesehatan seperti asma dapat memiliki resiko tinggi terhadap komplikasi influenza. (Dodds, 2007). Dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil, antara tinggi dan rendahnya resiko terhadap wanita hamil terutama selama trimester III, memiliki lebih banyak kejadian kardiopulmonal selama musim influenza. Karena pada trimester III, perubahan fisiologis seperti perubahan kardiovaskular dan respirasi menjadi lebih berat disebabkan perkembangan janin yang semakin besar. Penyebabnya dengan makin besarnya kandungan, diafragma atau sekat rongga dada pun kian tertekan ke atas. Akibatnya, ruang paru-paru jadi lebih sempit, sehingga oksigen yang masuk ke paru-paru makin sedikit pula. Dari hasil penelitian tim Kawaoka, serangan virus H1N1 ternyata lebih berbahaya dan lebih mematikan daripada serangan virus flu biasa. Virus H1N1 ternyata memiliki kemampuan menyerang kedalam sel-sel terdalam dari paru-paru, sehingga menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) pada penderita, dan dalam beberapa kasus, faktor inilah yang kemudian menyebabkan kematian.

Sedangkan serangan virus flu biasa, biasanya hanya menginfeksi jaringan saluran pernapasan atas, tanpa serangan ke organ dalam paru-paru. (www.tempointeraktif.com) Mekanisme terjadinya pneumonia terjadi ketika tindakan sinergi bakteri dengan virus influenza masuk mengikat dan menginvasi bakteri, meningkatkan replikasi viral, dan modifikasi dari respon inflamasi inang tersebut. Interaksi antara virus influenza dan bakteri secara menyeluruh ditetapkan sebagai streptococcus pneumonia. Namun selain streptococcus, patogen yang sering menginvasi pada pneumonia bakteri sekunder adalah Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, dan adakalanya bacil gram negatif lainnya. (Schwarzmann, 2008)

Selain komplikasi pnumonia, ibu hamil yang terkena serangan virus influenza A dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada si ibu maupun si janin. Dari hasil penyelidikan CDC terhadap 20 kasus wanita hamil yang terserang influenza A, beberapa di antaranya mengalami komplikasi radang paru-paru, dehidrasi, dan kelahiran prematur. (Schuchat, 2009) Dehidrasi tersebut disebabkan karena efek influenza yang salah satunya adalah hipertermia atau demam. Pada influenza A manifestasi masuknya virus ke dalam tubuh adalah  timbulnya demam yang tinggi tidak seperti pada flu biasa. Keadaan yang lebih berbahaya adalah bila suhu inti tubuh mencapai 40,5oC karena pada suhu tersebut otak sudah tidak dapat lagi menoleransinya. Sebagai perlindungan dari heat stroke atau hilang kesadaran, untuk sementara otak dapat dipertahankan menjadi lebih dingin daripada bagian lain dari tubuh karena suhu inti yang meningkat menyebabkan pengeluaran keringat yang hebat di kepala (bahkan dengan dehidrasi), terutama pada wajah.

Di Australia, setidaknya enam wanita hamil terpaksa melahirkan bayi mereka secara prematur karena terserang virus flu babi. Mereka terpaksa melahirkan prematur sebab virus itu mengancam nyawa bayi-bayi tersebut. (Sydney Morning Herald, 2009). Hal ini dilakukan karena jika tetap mempertahankan kehamilan hingga usia yang cukup matang ditakutkan janin terinfeksi lebih parah, sehingga pilihan untuk melahirkan prematur dirasakan cukup tepat. Selain itu, infeksi pada kehamilan yang disebabkan oleh virus influenza A dapat beresiko menyebakan keguguran. Saat ini virus H1N1 sudah menjadi pandemi di seluruh dunia tetapi umumnya kondisi pasien yang tertular virus ini masih dalam tahap gejala ringan. Namun karena wanita hamil mengalami perubahan daya tahan tubuh, wanita hamil yang tertular virus flu babi lebih cenderung mengalami gejala yang berat, bahkan juga sangat rentan menyebabkan keguguran. (Center for Disease Control and Prevention, 2009).

Menurut Susanto (2009), ancaman terbesar dari sakit flu adalah jika terjadi demam yang tinggi pada ibu hamil. Suhu tubuh yang terlalu tinggi dan terus menerus ini bisa mengakibatkan keguguran. Keadaan lebih parah mengenai komplikasi virus influenza A pada ibu hamil adalah kematian. Hingga 21 September 2009 sudah 3 orang wanita hamil diopname di rumah sakit karena dinyatakan tertular virus flu babi dan 2 orang diantaranya meninggal. Untuk itu, sangat penting dilakukan pemeriksan dini pada ibu hamil dengan tanda dan gejala flu terhadap kemungkinan terinfeksi flu babi.  (Schuchat, 2009) Penyakit yang bertambah parah dan kematian telah terjadi pada wanita hamil yang terkena virus influenza A ini sejak muncul pada akhir April tahun ini. Enam persen dari kasus yang dilaporkan bertambah parah sampai saat ini, 1 % merupakan wanita hamil dari populasi secara umum kehamilan. (Arkansas Department of Health and Human Services, 2009)

Selain komplikasi yang dapat terjadi pada ibu, janin juga dapat mendapatkan komplikasi dari virus influenza A ini. Fetal distress dapat terjadi pada ibu dengan gejala influenza yang sudah parah. Laporan kasus yang merugikan hasil kehamilan dan kematian ibu telah dikaitkan dengan penyakit berat. Idealnya, ibu hamil yang telah mencurigai terkena infeksi virus influenza A (H1N1) harus dites untuk influenza. (Center for Disease Control and Prevention, 2009) Selain itu, demam selama kehamilan ibu telah terbukti menjadi faktor resiko yang merugikan perkembangan bayi dan hasilnya, termasuk neonatal kejang, ensefalopati, cerebral palsy, dan kematian bayi. Meskipun membedakan efek dari penyebab demam dari hipertermia itu sendiri adalah sulit, demam pada ibu hamil harus ditangani karena resiko yang muncul dari hipertermia dapat membahayakan janin. (Center for Disease Control and Prevention, 2009) Penelitian telah menunjukkan bahwa hipertermia ibu selama trimester pertama menggandakan risiko cacat tabung saraf dan dapat dihubungkan dengan cacat lahir lainnya dan hasil yang merugikan. Data yang terbatas menunjukkan bahwa risiko cacat lahir yang berhubungan dengan demam mungkin akan dikurangi oleh obat antipiretik dan atau multivitamin yang mengandung asam folat. (Center for Disease Control and Prevention, 2009)

PENGOBATAN

Ibu hamil yang suspected atau terdiagnosa dapat diberikan terapi Oseltamivir 75-mg kapsul dua kali per hari selama 5 hari atau Zanamivir Dua 5-mg inhalasi (10 mg total) dua kali per hari selama 5 hari. Obat diberikan sedini mungkin setelah timbul gejala (yaitu dalam 2 hari pertama). Hal ini karena pengobatan antivirus paling efektif jika dimulai 48 jam pertama setelah timbul gejala

PENCEGAHAN

Sebagai bidan, usaha preventif harus selalu diupayakan sebagaimana yang tercantum pada standar pelayanan bidan. Pada pencegahan influenza A dapat diberikan konseling kepada ibu hamil mengenai usaha perilaku hidup sehat. Ibu hamil diajarkan dan dianjurkan bagaimana cara mencuci tangan yang benar setelah atau sebelum memegang sesuatu, serta penggunaan masker untuk mencegah penyebaran virus influenza A. Selain itu, ibu hamil juga perlu diberitahukan mengenai apa saja tanda dan gejala yang khas dari influenza, sehingga dapat segera memeriksakan diri sesegera mungkin jika mengalami tada dan gejala seperti itu. Selain itu pencegahan dapat berupa obat antiviral Oseltamivir 75-mg kapsul satu kali per hari atau Zanamivir dua 5-mg inhalasi (10 mg total) satu kali per hari. Obat antiviral influenza juga dapat digunakan untuk mencegah munculnya influenza bila dikonsumsi oleh mereka yang tidak sakit. Tentu saja, ini diberikan untuk mereka yang berada dekat penderita influenza A. Sebagai pencegahan, obat ini efektif hingga 70 – 90 %. Sementara, maksimal pemberian ditentukan oleh kondisi masing-masing pribadi. (Sitepoe, 2009). Selain obat antiviral, pencegahan dapat dilakukan dengan pemberiaan vaksinasi.  Vaksinasi flu yang diberikan pada wanita hamil dapat membantu bayi untuk melawan infeksi mematikan. Penelitian yang dilakukan di Bangladesh itu memperoleh dukungan Amerika Serikat yang mengatakan wanita hamil direkomendasikan untuk diberikan vaksinasi influenza. Terutama setelah dikeluarkannya larangan untuk memberikan vaksin tersebut pada bayi yang belum berusia 6 bulan. Data menunjukkan satu dosis vaksin flu khusus ibu hamil dapat menyediakan keuntungan ganda untuk ibu dan bayinya. (Steinhoff, 2008). Wanita hamil sebaiknya mendapatkan “flu shot” suatu inactive vaksin (mengandung beberapa potongan dari virus influenza yang sudah mati). Vaksin ini diberikan dengan jarum suntik, biasanya di daerah lengan. Flu shot diakui dapat digunakan untuk wanita hamil. (Arkansas Department of Health and Human Services, 2009). Pemberian vaksin influenza pada ibu hamil biasanya dianjurkan pada ibu hamil yang umur kehamilannya sama atau lebih besar dari 14 minggu. (CDC, 1997)

source : diambil dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s